Nawang Asha Menjelajah Nusantara #1
Dari Laut ke Pedalaman, dari Pemuda untuk Indonesia
Catatan Perjalanan Nawang Asha Menjelajah Nusantara Chapter 1 di Lamandau
Perjalanan ini tidak dimulai dengan tepuk tangan atau panggung megah. Ia dimulai dari ransel yang dipanggul, tiket kapal di tangan, dan keberanian untuk berangkat tanpa janji apa-apa selain niat. Pada Juli 2022, lima belas pemuda memilih meninggalkan kenyamanan kota dan bergerak ke arah yang jarang disorot peta—Lamandau, sebuah kabupaten di jantung Kalimantan Tengah.
Inilah kisah Nawang Asha Menjelajah Nusantara Chapter 1 (NAMN 1)—sebuah perjalanan yang tumbuh dari Semangat Pemuda untuk Indonesia.
Laut sebagai Gerbang, Waktu sebagai Ujian
Dari Solo menuju Semarang, langkah terasa biasa. Namun semuanya berubah ketika kapal perlahan meninggalkan Pelabuhan Tanjung Emas, tepat pukul tiga sore. Di hadapan kami, laut membentang luas, sunyi, biru, dan tidak bisa dipercepat.
Delapan belas jam di atas kapal menjadi ruang pertama kami belajar tentang kebersamaan. Laut berganti warna, matahari terbit lalu tenggelam, pulau-pulau kecil lewat seperti bisikan. Tidak semua dari kami mendapat kursi. Ada yang duduk semalaman, ada yang merebahkan tubuh di lantai kapal. Tapi tidak ada yang mengeluh. Di sanalah tawa lahir, permainan sederhana dimainkan, dan rasa lelah diterima sebagai bagian dari perjalanan.
Ketika kapal akhirnya bersandar di Pelabuhan Panglima Utar, Kumai, perjalanan belum usai. Masih ada darat yang panjang, jalan berliku, dan waktu yang terus berjalan. Enam hingga tujuh jam kemudian, menjelang malam, kami tiba di Desa Samu Jaya.
Total perjalanan kami dari kota ke desa menghabiskan hampir tiga puluh jam. Dari hiruk-pikuk klakson dan gedung tinggi, kami tiba di ruang yang lain sama sekali: hutan hujan tropis Kalimantan—salah satu paru-paru dunia yang menyimpan keanekaragaman hayati luar biasa, berdampingan dengan bentang perkebunan sawit yang kini menjadi wajah lain Pulau Borneo.
Desa yang Tidak Menyambut, Tapi Memeluk
Di Samu Jaya, kami tidak sekadar diterima. Kami dipeluk.
Ibu Nurul Hikmah dan Bapak Darmono—yang sejak hari pertama kami panggil Mama dan Abah—membuka rumah mereka, juga hati mereka. Abah bahkan menjemput kami sejak dari pelabuhan. Di rumah sederhana itu, kami tidak merasa sebagai tamu. Kami merasa pulang.
Malam pertama kami duduk melingkar. Makan bersama warga. Mendengar cerita desa. Tertawa di sela diskusi. Bersama Pak Sugeng, fasilitator lokal, kami melakukan social mapping—bukan dengan kertas dan tabel, tetapi dengan percakapan, empati, dan mendengar.
Kami datang membawa rencana. Namun desa memberi kami pemahaman.
Sekolah yang Kekurangan Fasilitas, Tapi Kaya Harapan
Keesokan harinya, kami menyapa sekolah-sekolah. Di SMP Negeri Satu Atap 4 Lamandau, kami melihat lapangan yang menjadi ruang bermain, belajar, dan bercanda. Fasilitasnya terbatas—bahkan sangat minimim. Namun semangat anak-anaknya meluap.
Mereka bermain voli, sepak bola, jajan di kantin, duduk bercerita. Ada yang tanpa ragu mendekati kami, bertanya siapa kami, mengapa datang, lalu mengajak berfoto bersama. Guru dan kepala sekolah menyambut dengan tangan terbuka. Murid-murid menyambut dengan hati yang lebih terbuka lagi.
Di SMA Negeri 1 Lamandau, sambutan datang dalam bentuk yang berbeda. Tarian khas Dayak mengalir di hadapan kami—anggun, kuat, dan penuh makna. Bagi sebagian besar dari kami, ini adalah perjumpaan pertama dengan budaya Dayak secara langsung. Sebuah sambutan yang tidak sekadar seremonial, tetapi simbol penerimaan.
Pendidikan yang Bergerak, Bukan Menggurui
NAMN 1 hadir dengan satu fokus: pendidikan. Bukan pendidikan yang menggurui, melainkan pendidikan yang bergerak bersama.
Kami membawa kurikulum yang kami susun jauh sebelum berangkat. Namun di lapangan, kurikulum itu hidup lewat permainan, tawa, diskusi, dan keterlibatan. Ada siswa yang riuh, ada yang malu-malu. Ada yang cepat berani, ada yang perlu waktu.
Dan itu tidak apa-apa.
Di SMP, kami mendampingi aktivasi OSIS—mulai dari pemilihan ketua secara digital, debat kandidat, pemaparan visi-misi, hingga penyusunan program kerja. Demokrasi tidak hanya diajarkan. Ia dipraktikkan.
Di TPA Al-Amanah, kami bertemu anak-anak dengan kepolosan yang menenangkan. Mereka ceria, aktif, dan menyambut kami dengan pelukan yang jujur. Di sana, kami diingatkan bahwa pendidikan paling dasar seringkali paling bermakna.
Dari Desa ke Ruang Kebijakan
Perjalanan ini tidak berhenti di sekolah dan rumah warga. Kami diundang berdiskusi dengan Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lamandau, menghadiri peringatan ulang tahun KNPI, hingga akhirnya duduk di ruang pribadi Bupati Lamandau, Hendra Lesmana.
Ruang itu awalnya terasa menegangkan. Banyak media. Banyak pasang mata. Namun percakapan perlahan mencair. Kami berbicara tentang pemuda, tentang tantangan SDM, tentang desa, dan tentang kolaborasi. Kami datang bukan untuk meminta, tetapi untuk menawarkan: gagasan, tenaga, dan kemauan untuk terlibat.
Di titik itu, kami sadar—pengabdian tidak hanya tentang turun ke lapangan, tetapi juga tentang membangun jembatan.
Ketika Media Mencatat, Publik Mengakui
Kehadiran NAMN 1 di Lamandau mendapat sorotan media. ANTARA News mencatat inisiatif ini sebagai upaya pemuda dalam meningkatkan kapasitas dan karakter generasi muda melalui pendekatan edukatif. Borneonews menyoroti pembentukan karakter, kepemimpinan, dan harapan pemerintah daerah agar program ini memberi dampak berkelanjutan.
Sorotan itu penting, tetapi bukan tujuan. Ia hanya penanda bahwa apa yang dilakukan pemuda di desa kecil ini ternyata berarti.
Dampak yang Tertinggal, Relasi yang Berlanjut
Pengabdian ini tidak berhenti ketika kegiatan usai. Beberapa minggu setelah tim kembali, komunikasi dengan guru, warga, dan pemuda setempat tetap terjaga—menjadi penanda bahwa relasi yang dibangun tidak berakhir saat ransel kembali dipanggul.
Dari proses tersebut, Desa Samu Jaya dan Kelurahan Tapin Bini kemudian diposisikan sebagai desa binaan, dengan fokus utama pada pendampingan pemuda. Pendampingan ini mengambil bentuk yang sederhana namun menentukan: membuka akses informasi pendidikan, mendiskusikan pilihan masa depan, serta meyakinkan bahwa melanjutkan pendidikan tinggi adalah sesuatu yang mungkin diraih.
Dari sekitar 50 pemuda yang terlibat dalam proses pendampingan, 20 diantaranya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kuliah. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah cerita tentang perubahan cara pandang—tentang keberanian untuk bermimpi lebih jauh.
NAMN 1 sebagai Pijakan Perjalanan
NAMN 1 menjadi pijakan awal bagi Nawang Asha dalam merancang pengabdian-pengabdian berikutnya di berbagai wilayah Indonesia. Lamandau mengajarkan bahwa kerja pemuda tidak selalu harus spektakuler; ia cukup konsisten, jujur, dan hadir di saat yang tepat.
Makna Pulang
Lamandau tidak hanya menjadi lokasi pengabdian, tetapi ruang belajar yang mengubah cara kami memandang Indonesia. Di sana, Semangat Pemuda untuk Indonesia menemukan bentuknya—dalam kelas sederhana, dalam tawa anak-anak, dalam diskusi panjang tentang masa depan, dan dalam keputusan berani untuk melangkah lebih jauh melalui pendidikan.
Ketika kami pulang, yang tertinggal bukan hanya program.
Yang tertinggal adalah keyakinan—bahwa perubahan kerap dimulai dari desa, dan sering kali dipantik oleh pemuda yang berani percaya dan Lamandau mengajarkan kami satu hal: perubahan sering kali dimulai dari desa oleh pemuda yang berani percaya.
Dan ketika kami pulang, yang kami bawa bukan hanya dokumentasi.
Kami membawa cerita, pelajaran dan Indonesia—dalam bentuk yang lebih utuh.
